Melanoidin
Melanoidin
Molekul besar pembawa warna yang terbentuk lewat reaksi Maillard selama penyangraian dan dapat mengikat sebagian senyawa aroma kopi.
Efek ke rasa
Ikut memberi warna pada seduhan, dan dapat 'menangkap' tiol beraroma sangrai sehingga aroma seduhan yang didiamkan hangat cepat memudar.
Melanoidin adalah senyawa berukuran molekul besar yang terbentuk di dalam biji selama penyangraian [1]. Pembentukannya terutama melibatkan protein dan asam amino; pada tahap awal sangrai, reaksi Maillard (reaksi antara gula dan asam amino saat dipanaskan) juga menggabungkan asam klorogenat, sukrosa, dan potongan protein ke dalam melanoidin [1]. Molekul ini membawa kromofor, yaitu gugus pemberi warna, yang diduga menempel melalui bagian gula arabinosa dari protein arabinogalaktan [1].
Makin gelap, makin banyak
Pada kopi yang sama, seduhan dari sangrai gelap mengandung melanoidin lebih banyak daripada sangrai medium: 1,18 vs 0,86 g per 100 mL pada espresso, dan 1,54 vs 1,21 g per 100 mL pada moka pot [4]. Dalam cold brew, kadarnya naik dari 4,33 mg/mL pada Agtron sekitar 73 menjadi 5,17 mg/mL pada Agtron 62 dan 5,92 mg/mL pada Agtron 53 [5].
Tahap awal sangrai (dari biji hijau ke sangrai terang) terutama menghasilkan melanoidin berukuran menengah, sedangkan penyangraian yang lebih lama menghasilkan melanoidin berbobot molekul tinggi [1]. Meski begitu, tidak semua fraksi bertambah: satu kelompok melanoidin anionik berbobot molekul tinggi tetap menyumbang sekitar 30–33% bahan yang larut dalam air dingin, baik pada sangrai terang, medium, maupun gelap [2].
Pengikat aroma
Melanoidin dapat mengikat tiol, yaitu senyawa aroma bersulfur yang memberi kesan sangrai-belerang (roasty-sulfury) pada seduhan segar [3]. Saat melanoidin ditambahkan ke campuran aroma seduhan, kadar 2-furfuriltiol, tiol yang paling terdampak, turun hingga 16 kali lipat; tiol ini terikat secara kovalen lewat senyawa pirazinium hasil reaksi Maillard [3]. Proses ini ikut membuat aroma seduhan cepat "basi" ketika disimpan hangat di termos [3].
Sumber
- Bekedam et al., 2008, Journal of Agricultural and Food Chemistry. doi:10.1021/jf800999a
- Nunes & Coimbra, 2007, Journal of Agricultural and Food Chemistry. doi:10.1021/jf063735h
- Hofmann & Schieberle, 2002, Journal of Agricultural and Food Chemistry. doi:10.1021/jf010823n
- Wołosiak et al., 2023, Applied Sciences. doi:10.3390/app13042057
- Shi et al., 2024, Foods. doi:10.3390/foods13193119