Lapisan 2

Struktur

Di balik kulitnya, biji kopi adalah jaringan sel berdinding keras yang saat disangrai kehilangan air, mengembang oleh uap dan CO₂, menjadi berpori, lalu terus melepas CO₂ sesudahnya.

Endosperm kopi adalah jaringan yang keras karena dinding selnya dipenuhi endapan polisakarida [1]. Polisakarida utamanya adalah mannan β-(1→4) yang sukar larut karena hanya sedikit bercabang galaktosa [1]. Dinding sel ini ditembus plasmodesmata, saluran halus yang memungkinkan zat terlarut berpindah dari satu sel ke sel lain [1].

Air, uap, dan tekanan

Pada satu studi pemodelan sangrai, kadar air awal biji hijau sekitar 13% (basis kering) dan turun menjadi 2–4% di akhir sangrai [2]. Air yang menguap mulai mengembangkan jaringan di dalam biji, lalu pengembangan berlanjut ketika CO₂ dilepaskan [2]. Tekanan maksimum di dalam biji yang pernah dilaporkan berkisar dari 4,4 atm sampai 25 atm [3]. Dalam sebuah studi warna sangrai, setiap sangrai punya tiga penanda: perubahan warna, first crack, lalu second crack [4].

Pori dan CO₂

Reaksi Maillard, karamelisasi, dan penguraian oleh panas (pirolisis) menghasilkan gas, dengan porsi besar berupa CO₂ [3]. Sebagian gas lepas selama sangrai, sebagian lagi tertahan di dalam struktur biji yang kini berpori [3]. Pada biji yang baru disangrai, CO₂ mencapai sekitar 1–2% dari beratnya [3]. Pada sangrai gelap, porositas naik sampai sekitar 0,5, artinya kira-kira separuh volume biji berupa rongga [3].

Degassing

CO₂ ini menjadi penanda kesegaran dan ikut membentuk crema [3]. Setelah sangrai, CO₂ yang tertahan keluar perlahan selama penyimpanan, dan jauh lebih cepat saat biji digiling atau diseduh [3]. Studi yang dikutip Smrke dkk. melaporkan 40–50% hingga 59–73% gas yang terperangkap sudah lepas dalam beberapa menit pertama setelah penggilingan [3]. Biji utuh sangrai terang masih melepas gas sebulan setelah disangrai, bahkan bila disimpan pada 35 °C, dan pada kecepatan sangrai yang sama biji sangrai gelap melepas gas sekitar tiga sampai empat kali lebih banyak [3].

Lihat di model 3D

Sumber

  1. De Castro & Marraccini, 2006, Brazilian Journal of Plant Physiology. doi:10.1590/S1677-04202006000100013
  2. Bustos-Vanegas et al., 2025, Frontiers in Food Science and Technology. doi:10.3389/frfst.2025.1603783
  3. Smrke et al., 2018, Journal of Agricultural and Food Chemistry. doi:10.1021/acs.jafc.7b03310
  4. Anokye-Bempah et al., 2025, Scientific Reports. doi:10.1038/s41598-025-06601-w