Lapisan 3
Endosperm
Biji kopi adalah endosperm, jaringan penyimpan yang sel-selnya menjadi wadah bahan baku aroma dan minyak kopi. Saat disangrai, isi sel itu bereaksi, dan pada sangrai sangat gelap sebagian besar selnya rusak.
Selama buah kopi berkembang, jaringan perisperm perlahan menghilang dan digantikan oleh endosperm, yang disebut sebagai biji sejati; endosperm inilah yang kita kenal sebagai biji kopi [1]. Endosperm kopi bersifat triploid, artinya tiap selnya membawa tiga set kromosom [1]. Lapisan luar perisperm yang tidak habis dipakai endosperm tetap tersisa sebagai silverskin [1].
Sel sebagai wadah
Pada biji matang, endosperm terdiri dari sel-sel bersegi banyak: bagian luar keras dengan sel berbentuk poligon, bagian dalam lebih lunak dengan sel berbentuk persegi panjang [1]. Kerasnya jaringan ini berasal dari dinding sel yang dipenuhi polisakarida, terutama mannan [1]. Sel endosperm menimbun cadangan makanan, antara lain protein simpan tipe 11S [1]. Sebagian besar minyak kopi juga terkunci di dalam struktur sel ini dan hampir tidak terpengaruh oleh penyangraian [4].
Isi yang bereaksi saat disangrai
Gula pereduksi dan asam amino bebas di dalam biji adalah prekursor aroma: saat disangrai, keduanya membentuk sebagian besar senyawa aroma kopi lewat reaksi Maillard dan degradasi Strecker [2]. Isi sel ini sudah berubah bahkan sebelum sangrai: selama biji hijau disimpan, glukosa dan fruktosa sedikit berkurang dan glutamin turun nyata [2]. Saat disangrai, gas yang terbentuk sebagian tertahan di dalam struktur biji yang kini berpori [3]. Pada sangrai yang sangat gelap, sebagian besar sel rusak sehingga minyak bisa cepat berpindah ke permukaan biji [4].
Hidup atau mati?
Pada biji hijau, sel-sel ini belum tentu mati: biji kopi yang baru selesai diproses masih hidup dan metabolismenya aktif [2]. Selama disimpan, biji kehilangan viabilitasnya, lebih cepat bila sudah dikupas dari kulit tanduknya, dan hilangnya viabilitas ini diduga ikut membuat aroma kopi yang lama disimpan terasa "datar" [2].
Sumber
- De Castro & Marraccini, 2006, Brazilian Journal of Plant Physiology. doi:10.1590/S1677-04202006000100013
- Selmar et al., 2008, Annals of Botany. doi:10.1093/aob/mcm277
- Smrke et al., 2018, Journal of Agricultural and Food Chemistry. doi:10.1021/acs.jafc.7b03310
- Kim et al., 2021, Food Science and Biotechnology. doi:10.1007/s10068-020-00865-w